November 25, 2014

Hati Boleh Panas, Kepala Harus Dingin


Tidak pernah mudah menjadi anggota perusahaan di PLN. Akan selalu menjadi sasaran caci maki, sasaran kemarahan, dll. Ini yang membuat saya tertarik untuk membuat kolom khusus "Shabat PLN", agar masyarakat tahu bahwa insan PLN selalu berupaya yang terbaik untuk masyarakat. Ini salah satu contohnya.

Tulisan ini dibuat oleh Reza Fauzan, Manajer Rayon Muntok, Area Bangka, Wilayah Bangka Belitung. Silahkan diresapi.

Saat itu, handphone saya berdering. Assisten Manajer Jaringan Area Bangka menghubungi untuk memberitahukan bahwa PLTU akan keluar sistem kembali dan berdampak pada pemadaman bergilir. Padahal sebelumnya, seluruh Rayon sudah mensosialisasikan ke stakeholder bahwa sebelum puasa ini, sistem kelistrikan khususnya Bangka Barat sudah normal. Hanya ada pemadaman captive power (daya besar).

Pada 1 Juli 2014, tepatnya saat sahur, penyulang Muntok 1 (Harimau) dipadamkan. Selanjutnya, pada waktu berbuka, penyulang kembali dipadamkan. Saya sempat protes tentang jadwal pemadaman ini kepada petugas dispatcher melalui radio. Tetapi mereka menjawab: “Memang sudah jadwalnya, Pak!”. 

Padahal sosialisasi jadwal pemadaman baru ini belum sempat dikirim ke Rayon-Rayon. 

Tidak lama setelah berbuka, 10 orang dari perwakilan pengurus mesjid di Muntok mendatangi kantor untuk menyampaikan keluhan dan aspirasi mengenai pemadaman yang sering terjadi di bulan Ramadhan. Saya dan beberapa staf menerima langsung perwakilan mesjid di kantor.  Salah satu dari mereka menyampaikan: “Apa PLN sengaja, pas buka puasa dan sahur selalu memadamkan listrik? Apa PLN ini kafir semua?.” Hati boleh panas, tapi kepala harus dingin dalam menghadapi situasi ini. Saya menjelaskan agar suasana tidak terlalu panas. Alhamdulilah mereka mengerti kondisi yang terjadi di PLN. 

Setelah pertemuan yang agak panas itu, saya langsung gerak cepat dengan meminta jadwal pemadaman yang fix untuk ditempel di masjid-masjid, disertai dengan selebaran permintaan maaf. Saya juga menginformasikan jadwal pemadaman melalui radio-radio dan media massa lokal. Kami juga tak lupa berkoordinasi dengan pihak Polisi (Kapolres Bangka Barat), Bapak AKBP Djoko Purnomo untuk membantu mengamankan aset PLN dan daerah-daerah yang terkena dampak pemadaman. Hal ini kami lakukan karena ada isu yang menyebutkan bahwa meningkatnya pemadaman dapat memicu meningkatnya tindakan kriminal (pencurian). Selain dengan pihak pengamanan, kami juga berkordinasi dengan Bapak Sukirman selaku Wakil Bupati Bangka Barat untuk menjelaskan kondisi kelistrikan di Pulau Bangka. Bulan Ramadhan kali ini berbarengan dengan momen Piala Dunia. Salah satu momen yang paling saya ingat adalah ketika sudah memasuki babak semi final antara Jerman vs Brazil. Sekitar pukul 22.30 WIB, Muntok dan sekitarnya masih mengalami pemadaman. Padahal pukul 23.00 WIB pertandingan  akan  dimulai.  Saat  itu  saya masih standby  di  posko  gangguan. Terdengar suara knalpot motor yang dimainkan gasnya. Ternyata ada sekelompok orang masuk ke halaman kantor.  Awalnya hanya ada delapan motor. Namun, tidak lama kemudian massa bertambah menjadi 30 motor. Saya langsung keluar posko menemui mereka untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.  

Dengan tenang saya menjawab pertanyaan mengenai masalah pemadaman yang terjadi. Salah satu diantara meraka malah ada yang berbicara: “Apakah PLN ini mau curi solar ya, sengaja listrik kami dimatikan?.” Dalam hati saya berkata, “Kotor sekali pikiran orang ini”.  

Walau hati panas kepala harus tetap dingin. Dengan rendah hati saya jelaskan, “Pak tidak ada hubungan antara pemadaman sekarang dengan solar. Hal ini dikarenakan adanya pemeliharaan unit pembangkit kita, bukan karena solar. Kita juga tidak ingin terjadi pemadaman.”  

Tak lupa saya menjelaskan pemadaman itu juga bisa terjadi karena gangguan yang diakibatkan pohon roboh atau alam. Perasaan saya agak tenang setelah mengetahui personil sekuriti PLN ada yang mengenal salah satu dari sekelompok orang tersebut dan ikut membantu menjelaskan kondisi yang sedang terjadi. 

Dua orang personil kepolisian yang standby ternyata belum mampu membuat massa menjadi tenang. Salah satu anggota polisi tersebut berinisiatif menghubungi kesatuannya. Sekitar 20 menit berlalu, ada satu unit personil (30 orang) datang ke kantor untuk membantu keamanan. Setelah melihat jumlah anggota kepolisian yang banyak, dan mendapatkan penjelasan yang baik, masyarakat pun membubarkan diri secara bertahap. 

Pengalaman ini, semoga dapat memotivasi rekan-rekan di unit lain untuk ikhlas bekerja. Lebih bersemangat melistriki nusantara, dan Insyaa Allah walaupun hati panas tetapi kepala tetap dingin dalam menghadapi permasalahan.

- PLN Unit Note-

No comments:

Post a Comment

Category