November 18, 2014

Kenaikan BBM



Dan, akhirnya resmi juga kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) hari ini tanggal 18 Nopember 2014 pukul  00.00 WIB. Naik Rp. 2.000,- menjadi Rp. 8.500,- atau naik hampir 31%. Saya tidak tahu harus bagaimana melihatnya. Pertama, saya bukan ekonom atau pengamat ekonomi, yang kedua saya bukan pengguna utama Premium atau Solar, saya sudah cukup sering menggunakan BBM Non Subsidi, meskipun kendaraan saya hanya motor dan mobil tua.

Mungkin saya termasuk sebagian kecil yang 'sedikit' terpengaruh kenaikan BBM ini, tentu tidak sebanding dengan pengaruh besar terhadap sebagian besar masyarakat kecil. Dan, yang belum saya mengerti secara logika adalah korelasi penurunan subsidi terhadap alokasi kepada sektor lain, seperti jaminan pendidikan (KIP), jaminan kesehatan (KIS) dan jaminan sosial (KKS). Ya, karena dengan nilai yang tidak begitu besar dari masing - masing kartu tersebut, tidak akan pernah mengejar dampak kenaikan BBM yang meluas. Yup, kita tidak hanya bicara masyarakat yang mengkonsumsi BBM untuk kendaraannya, tapi masyarakat kecil juga mengkonsumsi sembako, serta kebutuhan lain yang akan terpengaruh kenaikan BBM. Meskipun  kenaikannya belum tentu 31% masing - masing bahan pokok/ barang - barang yang terkena imbas. 

Ketidakmampuan dalam mengalokasikan BBM Bersubsidi seharusnya tidak menjadikan harga BBM naik untuk seluruh konsumen. Saya pengguna Lancer Tahun 1997 bersedia menggunakan BBM Non Subsidi, dan seharusnya pemilik Fortuner, Inova, Avanza, dkk atau Motor Ninja, CBR, Ducati harus mau juga menggunakan BBM Bersubsidi, sehingga masyarakat pengguna Honda Supra, Honda 70, Karisma, angkot, kendaraan umum tetap bisa menikmati BBM Bersubsidi. Tapi ternyata  memang sedikit dari masyarakat kita menyadari bahwa dampak dari disalokasi yang mereka nikmati berdampak kepada masyarakat lain yang memang membutuhkan subsidi. 

Jika PLN mampu membedakan pelanggan 450 va dan 900 va untuk golongan tidak mampu dan berhak menerima subsidi, kemudian pelangggan 1300 va keatas sebagai golongan mampu, kenapa Pertamina / regulator di bidang perminyakan tidak bisa? bukankah kendaraan sudah cukup mewakili kemampuan ekonomi seseorang? Saya menghargai upaya - upaya yang pernah dilakukan pemerintah untuk membedakan konsumen BBM Subsidi dan BBM Non Subsidi. Dan seharusnya itu dilanjutkan dan terus diupayakan, bukannya alih -  alih langsung meratakan harga BBM Subsidi. Jika upaya - upaya ini telah dilakukan dan memang tidak bisa dihindari, saya meyakini, masyarakat akan mengerti. 

Regulator harus berbuat lebih banyak lagi. Lebih keras, lebih bijak bukan sekedar menetapkan diatas kertas saja. 

Tapi akh,...ini hanya pandangan saya, sebagai masyarakat, pekerja, bukan ekonom apalagi regulator. Yang harus saya lakukan sebagia pribadi ya, survive, mulai mencari pemasukan lain, yang halal loh ya... Semoga ketidaknyamanan ini, betul- betul membawa kebaikan untuk seluruh masyarakat Indonesia, dan... please regulator, bekerjalah lebih baik, bersungguh - sungguh dan berorientasi untuk kehidupan lebih baik, bukan untuk untuk kepentingan kalian apalagi partai kalian. 


No comments:

Post a Comment

Category