November 14, 2014

[Overview] Operational Performance Improvement / Peningkatan Kinerja Operasional



Ada yang pernah denger 3 kata ini : Operational Performance Improvement atau 1 kata ini OPI? bagi perusahaan yang sedang bertransformasi, istilah ini sangat tidak asing, terlebih Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sedang bertransformasi seperti Telkom, Pertamina dan PLN atau anak perusahaan BUMN. 

Tulisan ini saat ini tidak menjabarkan secara detail, hanya sekilas menggambarkan salah satu metode transformasi yang digunakan. Dalam skala kecil, hal ini juga bisa diterapkan untuk perusahaan/ usaha yang sedang kita jalankan. Oke, begini gambarannya.

Operational Performance Improvement (OPI) diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi Peningkatan Kinerja Operasional. Ya, OPI bertujuan meningkatkan performa operasi suatu kegiatan / usaha/ organisasi / perusahaan. Bagaimana caranya? 

OPI meningkatkan performa operasional melalui 3 stream, yaitu : Technical System / TS (kinerja mesin/teknis), Management Infrastructure / MI (kinerja fasilitas pendukung/supporting) dan Mindset Capabilities & Leadership / MCL (kinerja sumber daya manusia / SDM). Bagaimana cara OPI meningkatkan ketiga stream tersebut? OPI melakukan 3 proses dalam meningkatkan performa di ketiga stream tersebut, yaitu Diagnostic , Design dan Deliver atau dikenal dengan 3D. 

Diagnostic adalah proses mengidentifikasi masalah yang terjadi. 
Design adalah proses perencanaan perbaikan atas masalah yang telah teridentifikasi. 
Delivery adalah proses implementasi perbaikan dan monitoring evaluasi kegiatan yang direncanakan. 

Diagnostic
Diagnostic untuk Technical System salah satunya dilakukan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE). Menilai efektivitas peralatan terhadap kinerja operasi. 
Diagnostic MCL dan MI salah satunya menggunakan metode survey Employee Mindset Index /EMI Survey yaitu survey yang ditujukan untuk mengetahui pola pikir / pemahaman karyawan akan suatu masalah. 

Design
Proses design dimulai dengan analisis / evaluasi, penyusunan alternatif inisiatif / program dan penyusunan rencana kerja (workplan). 
Analisis Technical System menggunakan Pareto Analysis. Menganalisa 20% gangguan/masalah yang berkontribusi terhadap 80% penurunan produksi/operasi . Sehingga fokus penyelesaian hanya pada 20% gangguan/masalah utama tersebut. Gangguan/masalah kemudian dianalisi faktor penyebabanya menggunakan tool analisis Root Cause Problem Solving (RCPS) / Root Cause Failure Analysis (RCFA), sehingga didapatkan faktor penyebab dan sub faktor penyebab tersebut serta alternatif pemecahannya. 
Analisis MI dan MCL juga menggunakan RCPS. Sehingga ditemukan faktor dan sub faktor masalah tersebut dan alternatif alternatif penyelesaiannya. 

Setelah dilakukan analisis dan ditemukan sub faktor penyebabnya dan alternatif penyelesaiannya, langkah selanjutnya adalah menyusun prioritas pemecahan dari alternatif - alternatif tersebut berdasarkan tingkat kemudahan implementasi dan besaran dampaknya. 

Selanjutnya jika sudah ditetapkan alternatifnya, perlu dibahas dengan manajemen untuk menentukan alternatif program mana yang disetujui oleh manajemen. Program yang disetujui disusun rencana kerja (workplan). 

Deliver
Proses pelaksanaan program penyelesaian berdasarkan rencana kerja / workplan yang telah disusun, program di monitor dan dievaluasi untuk dilihat efektivitas pelaksanaanya. 

Proses OPI tidak bisa hanya dilakukan dengan satu siklus. Untuk melihat dampak dan efektivitasnya maka proses 3D dilakukan kembali, sampai optimalisasi produksi / operasi tercapai. 

Oke, segitu dulu untuk sebuah overview, akan lebih didetailkan pada tulisan lainnya. 
Semoga bermanfaat. 


No comments:

Post a Comment

Category