November 18, 2014

Perang Padam PLN di Mojokerto


Sudah banyak hal yang diupayakan oleh sahabat - sahabat PLN di penjuru Indonesia ini, tujuannya hanya 1, memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan. Salah satunya adalah rekan Pulung Jatmiko, seorang Manajer Rayon PLN di Area Mojokerto, PLN Distribusi Jawa Timur. Ya, beliau adalah komandan dalam sebuah perang yang warga PLN sebut sebagai "Perang Padam". Perang yang dikobarkan oleh Direksi PLN untuk mengatasi keterpurukan PLN, mengatasi buruknya produk yang diterima oleh pelanggan/masyarakat. Perang ini adalah, perang hidup mati PLN dalam menjawab tantangan pelayanan, pertumbuhan ekonomi dan menjadi perusahaan kelas dunia. Apa upayanya? silahkan disimak. 


Ini adalah kisah pada 2012, ketika saya menjadi Manajer Rayon Sukorejo. Sejak program Perang Padam Jawa Bali (PPJB) digulirkan, sepertinya sudah menjadi kewajiban Manajer Rayon untuk selalu membawa radio komunikasi (HT)-nya kemanapun. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk memudahkan mengambil langkah cepat begitu mendengar ada laporan gangguan. Kapanpun, jam berapapun.
Rayon Sukorejo berada di ujung selatan Kabupaten Pasuruan dengan pelanggan industri sebanyak 166. Jumlah itu memberi sumbangan 73 persen dari total pendapatan Rp 16 miliar. Merupakan porsi yang besar maka kami betul-betul harus menjaga kepuasan pelanggan itu.
Pada Oktober dan November 2011 saya melaksanakan inspeksi jaringan mulai dari wilayah pelanggan industri sampai kondisi pohon. Melakukan sejumlah pembicaraan dengan pengguna listrik, intinya satu, ”Layanan sudah bagus pak, tapi jangan suka padam.”
Sepanjang 2011 tercatat ada 49 gangguan dengan berbagai cerita suka dan duka dalam penanganannya. Yang belum dilakukan di tahun tersebut adalah ketiadaan Root Cause Problem Solving (RCPS) atau pemetaan masalah, perencanaan, pengawasan, dan evaluasi. Tentu ini tak boleh dibiarkan. Pada 2012 harus sudah ada.
Kepada Pak Sugianto, Supervisor Pelayanan Teknik Rayon Sidoarjo, saya mengutarakan bahwa Rayon ini perlu mulai membuat RCPS. Pemetaan itu akan menjadi kunci utama penyelesaian sebuah gangguan. Tanpa RCPS tak akan bisa diketahui apa yang menjadi penyebab masalah. Maka gangguan yang sama kerap terjadi sampai berulang kali.
Pemetaan itu saya mulai dengan menginventaris penyebab gangguan pada semua penyulang. Contohnya, penyulang Glagahsari yang sering mengalami trip karena CV Pantras dengan Konstruksi Pole Mounted Circuit Breaker (PMCB) itu sangat lembab dan sering menjadi rumah burung.
Penyulang Tutur adalah penyulang terpanjang di Sukorejo kala itu dengan panjang 103 kilometer sirkit (kms), memiliki potensi gangguan. Banyak penduduk setempat yang memotong pohon tanpa memedulikan kondisi jaringan PLN. Penyulang Purwodadi penyebab utamanya berada di Desa Ngembal. Pohon sengon dan jati yang sulit dipotong karena warga tak memberikan izin. Lalu Penyulang Lemahbang yang sering terjadi gangguan pada musim penghujan yang disertai dengan petir.
Pemetaan masalah sudah berjalan. Kini diperlulan perencanaan langkah yang tepat dan tindaklanjut yang konsisten. Rencana memang indah. Tapi dalam pelaksaan tidak semua yang dilakukan sesuai jadwal. Masih terjadi gangguan dengan penyebab yang sama, ini yang bikin gemas,  yang sudah ditemukan dan tercatat dalam buku data inspeksi.
Evaluasi lagi saya lakukan. Hasilnya saya memutuskan wajib melaksanakan perubahan SDM pelayanan teknik (Yantek), perbaikan administrasi teknik, dan perbaikan administrasi gudang Rayon. SDM Yantek adalah kunci utama. Saya yakin apabila SDM yang dimiliki berkualitas maka pekerjaan akan berjalan dengan baik, benar, dan sinergi. Bahkan dapat menciptakan output yang luar biasa. Perubahan itu harus diimbangi dengan contoh dan langkah nyata terutama dari pegawai PLN termasuk saya.
Satu kesempatan saya pernah meminta Munir, pegawai PLN, mengawal regu rabas. Hasilnya luar biasa. Mereka bisa pulang cepat dengan hasil kerja memuaskan. ”Kita bisa cepat karena kalau ditemani pegawai PLN itu kerjanya jadi semangat,” begitu kata Pak Wiryono, anggota senior tim rabas.
Wah, bagaimana ini. Punya pemikiran semacam itu tentu tak dibolehkan. Sebagai profesional, setiap orang mempunyai tanggung jawab pekerjaan. Dan semangat bekerja bukan karena didampingi atau dikawal, tetapi kembali pada diri sendiri.
Mulai saat itu saya kemudian mengambil langkah ”Kumpul Rabas Bendino.” Kegiatan itu berlangsung setap hari kerja mulai pukul 15.30 WIB sampai tak terhingga. Adanya aktivitas ini membuat tim rabas mau tak mau harus mampu menyelesaikan tugas harian sebelum pukul 15.30 WIB. Berjalan waktu terlihat jika kerja tim rabas mengalami peningkatan. Satu perubahan telah berhasil dilakukan.
Cerita lain muncul dari regu rabas. Ada satu pohon sengon yang masuk Cut Ou (CO). Branch Surja tak boleh dipotong. Malah di pohon milik Pak Kayun itu ditempel kayu pengumuman ukuran kecil. Tulisannya, dilarang dipotong. Padahal pohon tersebut menjadi potensi besar penyebab penyulang Purwodadi terganggu. Sampai panglima PPJB Disjatim pernah mengirimi saya SMS dengan pesan pendek, ”Ada apa Purwodadi.”
Saya kemudian turun lapangan, menemui kepala desa Ngembal yang bernama Pak Suud. Saya minta ditemani menemui Pak Kaun. Oleh pak Suud tugas itu kemudian dialihkan kepada bawahannya, Pak Bayan. Dari hasil komunikasi, intinya Pak Kayun tetap kekeuh merawat pohon itu. Kalau memaksa memotong dia akan mengizinkan dengan ganti rugi sebesar Rp 35 juta. Waduhh...
Tak mau gampang menyerah saya terus melakukan pendekatan persuasif. Dari pukul 10.00 WIB sampai 15.30 WIB saya diam di rumah Pak Kayun. Sebuah perjuangan yang tidak sia-sia. Pak Kayun akhirnya mengizinkan. Kuncinya adalah jalani segala sesuatu sesuai prosedur dan utamakan komunikasi. Semua pasti bisa.
Perubahan Administrasi Teknik 
Satu ketika petugas inspeksi bertanya kepada saya. ”Pak penyebab trip sebenarnya sudah ada di hasil inspeksi saya. Kenapa tidak ditindak lanjuti,” tanyanya.
Sedih sekali mendengar laporan petugas itu. Bukankah sudah dibuat standar mengatasi gangguan,  yaitu  perencanaan  inspeksi  dan  pemeliharaan.  Itu  artinya  hasil  inspeksi  langsung
 ditindaklanjuti bersama Perintah Kerja (PK) yang sekarang sudah diakomodir oleh Sistem Pelayanan Teknik Terpadu (SPT2). Buat apa dia bertanya seperti itu jika harusnya sudah tahu, penemuan hasil inspeksi harus langsung dilakukan penanganan. Perubahan Administrasi Gudang 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke) wajib dijalankan sesuai semangat PLN Disjatim. Bagaimana dengan Gudang Sukerejo? Saya pernah bertanya kepada pengelola gudang mengenai persediaan Miniature Circuit Breaker (MCB) 20 Amp. Tak bisa langsung menjawab, pengelola gudang itu mengatakan harus menghitung dulu.
What??!! Kenapa stok barang di gudang tak diinventariskan langsung di kartu gantung, kartu yang mencatat barang masuk dan keluar. Gudang di Rayon sangat penting untuk mensupport PPJB dan pelayanan kepada pelanggan. Apabila adminsitrasi tidak dilakukan dengan benar dikhawatirkan kepastian material tidak bisa diinformasikan dan digunakan.
Perubahan operasional gudang harus dilaksanakan. Tiap Jumat saya melakukan kegiatan  pembersihan gudang secara besar-besaran. Dari situ akan ketahuan stok barang. Perbaikan pencatatan juga dilakukan. Kini gudang selalu siap menyajikan data dan material 24 jam full.
Pengalaman menjadi Manajer Rayon di Suterejo adalah cerita luar biasa bagi saya.
Cerita saya ini adalah pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya secara pribadi. Walaupun pada 2012 kami kalah pada PPJB jilid 2, tapi kami merasa telah menang proses menuju kemenangan. Yang pasti kami selalu antusias mencapai kemenangan dengan jujur dan benar. Tahun 2012 menjadi tahun penyempurnaan pada semua sistem. Kami belum menang, tapi kami kini sudah ada di rel yang benar. Mengutip Menteri BUMN, Dahlan Iskan, dalam CEO disebut jika hanya orang-orang yang hidupnya penuh antusias yang bisa membawa perubahan. 

Pulung Jatmiko - Manajer Rayon PLN Area Mojokerto (dalam Unit Note PLN)


No comments:

Post a Comment

Category