November 24, 2014

Pesawat Tanpa Awak / Unmanned Aerial Vehicle (UAV)



Berawal Dari Torpedo Terbang
Tak ada satu kutipan sejarah pun yang menyatakan bahwa kemunculan UAV didorong oleh ide brilian Angkatan Udara Italia, yang berhasil mendayagunakan pesawat terbang sebagai pembom / Boomer. Seperti diramalkan Giulio Douhet pada 1909,  pemboman dari udara akan mendapat peran penting dalam peperangan di masa mendatang. 


Apa yang pernah ditegaskan oleh Giulio Douhet, pencetus teori kekuatan udara asala Italia, nyatanya memang menjadi kenyataan. Bahkan tidak perlu waktu lama untuk menunggunya. Hanya tujuh tahun setelah pesawat terbang pertama diterbangkan Wright Bersaudara pada 1903, Italia berhasil mencuri perhatian dunia lewat operasi pemboman dari udara. Dalam serangannya ke Turki, seorang penerbang AU Italia Letnan Giulio Gavotti berhasil membuat gentar musuhnya setelah menjatuhkan 4,5 lbs granat dari udara.  Efek perusakan yang ditimbulkan sebenarnya tidak sehebat pemboman dari darat. Namun efek psikologis atau keruntuhan moral musuh yang ditimbulkan ternyata luar biasa. Musuh lebih takut dengan pemboman dari udara karena sulit diantisipasi bahkan bisa masuk wilayah yang lebih strategis. 

Serangan udara di Turki dijadikan landasan konsep supremasi udara dan mencuri perhatian dunia. Tak kurang dari Angkatan Perang Inggris Raya, Perancis, Jerman, Kekaisaran Rusia dan Amerika Serikat selanjutnya berupaya menciptakan strategi baru dan senjata lain yang berbasis pemanfaatan pesawat udara. 

Dari sinilah kemudian muncul ide membuat pesawat tanpa awak. Inisiator pertama wahana ini adalah Archibald Montogomery Low (1883 - 1956), fisikawan Inggris yang juga dikenal sebagai Bapak Sistem Kendali Radio. Predikat prestisius ini disematkan karena pemikirannya yang begitu orisinal dalma eksperiman kendali roket, pesawat terbang dan terpedo. Pada 1916, ia berhasil menuntaskan Aerial Target yang kemudian ditetapkan dalam sejarah kedirgantaraan sebagai embrio Pesawat Tanpa Awal / Unmanned Aerial Vehicle (UAV). 

Aerial Target (AT) buatan AM Low bisa digambarkan sebagai pesawat mini tanpa awakyang khusus dirancang untuk diterbangkan dengan bahan peledak di kepalanya. Wahana yang juga bisa disebut sebagai embrio rudal ini adalah pesanan khusus Laboratorium Royal Flying Corps - cikal bakal RAF.
AT sejatinya dirancang pada masa Perang Dunia I untuk menghajar sasaran - sasaran penting milik Jerman. Namun, hingga perang usai, ternyata tak satupun dari bom terbang ini diterbangkan, kerena tidak kunjung sempurnanya sistem kendali. 

Pada masa itu, nyatanya tidak hanya Laboratorium Royal Flying Corps dan AM Low yang sibuk merancang pesawat tanpa awak. Di belahan  bumi lain, secara kebetulan , Angkatan Laut dan Angkatan Darat AS pun gencar merumuskan alat utama sistem senjata serupa. Tujuannya hampir sama, menciptakan bom terbang tanpa awak yang bisa digunakan untuk membungkam keganasan kapal kapal perang  Jerman. 

Keinginan AS membuat flying bomb menguat setelah Lawrence Sperry, engineer pakar rekayasa   senjata udara AL AS, berhasil merebut juara pertama dalam Kompetensi Rekayasa Keselamatan Pesawat Terbang, 18 Juni 1914 di Paris, Perancis setelah para juri terkagum - kagum dengan sistem kendali pesawat otomatis yang ia demonstrasikan diatas Sungai Seine. 

Rudal Jelajah dan UAV
Antara rudal jelajah dan UAV sendiri adalah dua wahana yang sebenarnya sama namun memiliki fungsi yang berbeda. Masing - masing harus dilengkapi sistem kendali otomatis yang akan mengarahkan dirinya ke sasaran yang telah ditentukan. Dengan demikian, baik tercom maupun GPS haruslah dibilang sebagai peranti kendali paling revolusioner yang akhirnya ditemukan AS dan menjawab semua masalah yang pernah dihadapi wahana terbang tanpa awal terdahulu. 




Perkembangan paling signifikan di bidang itu, khususnya diraih AS saat terjun ke medan pertempuran yang teramat sulit di Vietnam. Sementara militer AS bertempur mati - matian di belantara Asia, pakar aeronautikanya kembali di paksa untuk meramu peralatan pendukung untuk operasi intelejen. Diantara yang paling penting adalah wahan pengintai tanpa awak. Pihak pertama yang meramu alat semacam ini adalah Teledyne Ryan dengan alat yang dimaksud adalah Ryan Model 147 Lightning Bug. Di Vietnam sang UAV dioperasikan Wing Pengintai Strategis ke-100, AU AS. UAV ini cukup tangguh, antara 1964 hingga 1975 Sang Pengintai telah melakukan 3.435 sorti pengintaian udara, dengan tingkat keberhasilan 84%. 

Sejak itulah manfaat UAV kian terasa. Dua tahun sebelum Perang Vietnam berakhir, di Timur Tengah meletup Perang Yom Kippur, kala itu Israel membutuhkan data kekuatan lawan sebelum melakukan serangan. UAV pun dikerahkan diantaranya untuk mengintai beterai rudal milik Mesir di Terusan Suez. 

Kini, muncul UAV- UAV yang lebih canggih seperti : Scout, Mastiff, Predator, Reaper, Global Hawk, Searcher, Heron, dsb. Dengan mata lebih jeli, presisi, lebih lama terbang. Perannya pun tidak hanya pengintai, tapi juga membombardir sasaran bergerak, termasuk manusia. 

No comments:

Post a Comment

Category