November 27, 2014

Setahun 7000 Megawatt !



Direktur (Konstruksi dan Energi Baru Terbarukan) PLN Nasri Sebayang, meminta kepada semua unit terkait berusaha keras  menyelesaikan proyek-proyek kelistrikan yang ditargetkan pada 2014. 


Sampai bulan Oktober, masih ada proyek pembangkit sebesar  1.350 MW yang belum rampung, atau 30% dari target 2014 yang mencapai 4.639 MW. Selain pembangkitan, proyek- proyek transmisi dan gardu induk pun harus diupayakan penyelesaiannya. 

“Bagaimana caranya kita mampu menuntaskan proyek-proyek yang masih tersisa tersebut  sebelum 2015, karena mulai tahun depan kita akan menghadapi tugas yang lebih berat lagi,” ujar Nasri saat memberi arahan kepada peserta Rapat Koordinasi Direktorat Konstruksi dan EBT Triwulan III/2014, di Jakarta (22/10).


Nasri menuturkan, mulai 2015 tugas PLN akan jauh lebih berat ketimbang apa yang dilakukan saat ini.  Sesuai RUPTL,  rencana tambahan pembangkit baru sekitar 60.000 MW selama 10 tahun kedepan, atau rata-rata 6.000 MW tiap tahunnya. Bahkan,  dikabarkan bahwa pemerintah baru berencana membangun pembangkit baru sebesar 7.000 MW sampai dengan  10.000 MW setahun, atau sedikitnya 35.000 MW dalam 5 tahun kedepan. 


Pertanyaannya, apakah mungkin proyek pembangkit sebesar 35.000 MW dalam 5 tahun dapat dilaksanakan, mengingat proyek pembangkit yang berhasil diselesaikan sejak 2010 sampai dengan akhir 2014 totalnya hanya mencapai 14.800 MW. Angka yang dicapai itu hanya separuh dari yang akan direncanakan dalam 5 tahun kebelakang ini.  

“Jadi ini tantangan yang makin berat. Ditambah lagi, bila membangun pembangkit sebesar itu, berarti harus ditambah pula dengan pembangunan transmisi dan GI baru  ditambah transmisi  sepanjang 7.000 kms dan GI sebesar 20.000 MVA,”  ujarnya lagi.

Menurut Nasri, meski tantangannya begitu berat dalam 5 tahun kedepan, tetapi masih bisa untuk dilaksanakan, selama kondisi atau syarat-syarat yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Pertama adalah adanya dukungan pemerintah terhadap masalah pendanaan yang selama ini menjadi problem terbesar pada proyek-proyek kelistrikan. Bila merencanakan pembangunan pembangkit 7.000 MW setahun, maka diperlukan dana sedikitnya Rp 150 Triliun, termasuk untuk pembangunan transmisi dan GI. Syarat kedua, bagaimana bisa mempersingkat proses pengadaan barag dan jasa serta dan pengadaan lahan. Ketiga, bagaimana kita memilih kontraktor dan tenaga kerja yang benar- benar kompeten dan yakin mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Kempat, bagaimana kita dapat berkoordinasi di antara PLN sendiri maupun dengan pihak luar, termasuk dengan pemerintah. Kelima, bagaimana  melaksanakan sistem monitoring dan pelaporan yang lebih baik. 

“Jika kondisi atau syarat-syarat itu bisa terlaksana, saya yakin tantangan kedepan yang luar biasa besar dapat diatasi,” tandas Nasri.

Agenda Rakor Konstruksi Triwulan III/2014  yang berlangsung selama 3 hari ini tampak berbeda dibanding rakor- rakor sebelumnya. Selain diisi dengan pemaparan dari Kepala Divisi, GM UIP dan Satker Kitring, paparan pada rakor ini diisi pula juga unit-unit bisnis dan anak perusahaan PLN yang terkait dengan pembangunan proyek seperti PLN JMK, PLN Jaser, PLN Pusenlis, PLN-E, dan PT Rekadaya. Semuanya memaparkan permasalahan dan isu-isu penting terkait pelaksanaan kegiatan konstruksi.  

Pada kesempatan rakor tersebut dipaparkan juga mengenai rencana pembangunan pembangunan Transmisi 500 kV Sistem Sumatera oleh Ketua Tim Monitoring Yusuf Mirand. Menurutnya, aktifitas pembangunan transmsi 500 kV di sistem Sumatera yang akan menelan biaya sekitar 1.655 juta USD tersebut hingga saat ini masih pada tahap persiapan awal.

Menurut Yusuf, kriteria-kriteria utama PQ untuk proyek ini juga telah ditetapkan antara lain: “Bidders/Developer’s” adalah perusahaan dalam negeri yang memiliki pengalaman sebagai EPC kontraktor; Bidders harus mendapatkan dukungan keuangan dari Lembaga Keuangan Dalam Negeri; mempunyai kemampuan finansial (dengan minimum persyaratan rating D&B ranking 5A-2); memiliki kesanggupan pembiayaan proyek dengan pola pengembalian selama 12 tahun; memiliki quality assurance dan environmental management accreditation; memiliki pengalaman atau berkonsorsium dengan yang memiliki pengalaman pekerjaan pembangunan Infrastruktur lebih besar dari 500 Milyar.

Majalah Fokus PLN

No comments:

Post a Comment

Category